MUSIBAH dan MUHÂSABAH


Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, yang beberapa hari lalu siswa SMP Tamiriyah Surabaya menggalang dana untuk disumbangkan kepada korban gempa Cianjur. Bukan besar kecilnya sumbangan yang penting tapi bentuk pembelajara terhadap saudaranya yang ditimpa musibah jauh lebih penting. Pembentukan karakter kepedulian terhadap penderitaan saudara adalah hal yang harus dipupuk bagi siswa SMP Tamiriyah Surabaya


Ingat musibah datangnya dari Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin (kehendak) Allah (TQS at-Taghabun [64]: 11).

Dengan kata lain, musibah adalah bagian dari qadha’ Allah subhanahu wa ta’ala (QS al-Hadid [57]: 22). 

Maka, sikap seorang Muslim terhadap qadha’ Allah subhanahu wa ta’ala adalah ridha. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sungguh besarnya pahala itu seiring dengan besarnya ujian. Sungguh jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Siapa saja yang ridha, untuk dia keridhaan itu. Siapa yang benci, untuk dia kebencian itu (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Baihaqi).

Tak hanya itu, kita pun harus selalu bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah, “Tidak akan pernah musibah menimpa kami kecuali yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah (Allah) Pelindung kami.” Hanya kepada Allahlah kaum Mukmin bertawakal (TQS at-Taubah [9]: 51).

Dalam menghadapi musibah, Rasul shallallahu alaihi wa sallam pun mengajari kita agar melakukan istirja yakni mengembalikan segalanya kepada Allah subhanahu wa taala, berdoa, berdzikir, serta memperbanyak ibadah dan taqarrub atau mendekatkan diri  kepada Allah subhanahu wa taala. Bahkan musibah yang menimpa ini seharusnya juga melahirkan rasa syukur. Betapa banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. 

Dan yang tak boleh ketinggalan adalah bertobat kepada-Nya. Kita perlu muhasabah atau introspeksi diri. Mengapa? Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan bahwa beragam musibah (bencana) datang sering karena perbuatan (dosa) manusia sendiri:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ 

Musibah (bencana) apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan (dosa) kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian) (TQS asy-Syura [42]: 30).

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan bahwa kejahatan yang merajalela akan mendatangkan bencana? Zainab binti Jahsy radhiallahu 'anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kita akan binasa, wahai Rasulullah, padahal di sekitar kita ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab:

نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ 

Ya, jika kejahatan sudah merajalela (HR al-Bukhari).


Marilah kita ulurkan tangan kita membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah dengan kemampuan kita. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.(Tim Speta)

Komentar

Postingan Populer